Pilkada Serentak 2018 Sumedang: Kolaborasi Dua Partai Besar

SEJAK Juni 2017, suhu politik di Sumedang dalam menghadapi perhelatan Pemilihan Kepala Daerah Sumedang 2018 makin memanas.

Kerja jajaran Komisi Pemilihan Umum Sumedang pun akan semakin sibuk ketika pendaftarkan pasangan calon dari parpol dibuka dari 8-10 Januari 2018 mendatang. Sebelumnya, KPU Sumedang telah menerima penyerahan berkas dukungan pasangan calon perse­orangan, 25-29 November 2017.

Untuk calon dari parpol, gebrakan awal dilancarkan oleh PDIP sebagai partai pemenang pemilu sebelumnya (13 kursi DPRD).

Dalam penjaringan bakal calon, nama-nama kader partai yang muncul ke permukaan dan posisi cukup kuat yakni Ketua DPC PDIP yang juga Ketua DPRD Sume­dang Irwansyah Putra yadi Mulyadi (Sekretaris DPC PDIP Sumedang).

Seiring berjalannya waktu, dukung­an dari internal partai mengerucut pada Irwansyah Putra. Irwansyah makin kokoh diusung sebagai ba­lon­bup dari PDIP hingga sekarang.

Dalam proses penjaringan partai besar lainnya yakni Partai Golkar (10 kursi DPRD), berjalan cukup alot. Awalnya, Golkar sudah membukukan sejumlah nama bakal calon, baik dari internal partai maupun nonpartai. Dari dalam partai, mengerucut pada Ketua DPD II Golkar Sumedang Sidik Jafar.

Dari nonpartai, di antaranya tercatat Bupati Sumedang Eka Setiawan dan  mantan KPU Sumedang Asep Kurnia (Akur). Nama Akur dipilih Golkar dan digadang-dagang akan dipasangkan dengan bakal calon Zae­nal Alimin (Sekda Sumedang). Namun ketika Golkar lebih memilih calon dari kader internal partai, yak­ni Sidik Jafar, sontak suhu persaing­an politik di partai berlambang pohon beringin itu, jadi memanas.

Perahu lain

Dampaknya, Eka Setiawan terpaksa harus mencari “perahu” lain untuk pencalonannya pada Pemi­lihan Bupati Sumedang 2018 ini.

Awalnya, Eka Setiawan dikabarkan merapat ke Partai Gerindra dan akan bersaing dengan mantan pimpinannya sendiri yakni mantan Bupati Su­medang Ade Irawan, Ketua DPC Gerindra Sumedang Heri Ukasah  dan pengusaha kafe Agung Anugrah.

Belakangan ini, Eka Setiawan lebih kuat dilirik Partai Keadilan Sejahtera. Eka Setiawan pun tampak sering berdam­pingan dengan Agung dalam berbagai acara. Sepertinya, Partai Gerindra akan melanjutkan koali­sinya dengan PKS dalam pilkada nanti.

Hubungan PDIP dan Golkar, makin mesra. Hasilnya, kedua partai besar itu akhirnya memutuskan berkoalisi dengan mengusung pasangan Irwanyah Putra dan Sidik Jafar. Pasangan Irwansyah Putra-Sidik Jafar, kemungkinan besar akan diantarkan sampai pendaftaran pasangan calon ke KPU.

“Koalisi ini telah menyatukan dua partai besar. Ketika dua partai besar bersatu, diyakini akan memenangi Pilbup Sumedang 2018. Itu bisa terwujud, mana kala para pengurus dan kader masing-masing partai solid untuk mencapai kemenangan pada hajat demokrasi nanti,” kata Irwansyan Putra, belum lama ini.

Koalisi dua partai besar tersebut,  akan langsung ditindaklanjuti de­ngan sosialisasi dan menyiapkan berbagai strategi untuk pemenangan pilkada.

“PDIP dengan Golkar akan berjuang bersama untuk meraih kemenangan pada perhelatan Pilkada Sumedang. Kalau bersatu, kami yakin akan menang,” tutur Sidik Jafar dengan nada optimistis.

Mencari koalisi sepadan melawan kubu besar

Dua parpol besar yakni PDIP dan Golkar telah dipastikan akan berkoalisi di Pemilihan Bupati Sumedang 2018. Lalu bagaimana dengan langkah politik yang diambil oleh parpol dan figur lainnya?
Figur ataupun parpol lainnya pun ternyata tak ingin kalah gesit dari PDIP dan Golkar.

Dalam waktu yang hampir ber­sa­maan, anggota DPR asal Sumedang Dony Ahmad Munir (Doamu) yang sebelumnya menjabat Ketua DPC PPP Sumedang, ternyata sudah memutuskan dan memilih pasangannya yakni putra Manajer Persib Umuh Muchtar sekaligus Ketua DPC Demokrat Kota Bandung, Erwan Setiawan (Esa).

Pencalonan pasangan “Doamu-Esa” diusung oleh empat parpol  yakni PPP (5 kursi), Demokrat (4 kursi), PKB (2 kursi), dan PAN (3 kursi). Pasangan tersebut sudah sampai ke jenjang “akad nikah” tinggal menunggu hajat resepsinya dengan mendaftarkan diri ke KPU.

Kemenangan pilkada sebelumnya, kata Dony, mudah-mudahan terulang kembali. Hal itu karena dengan koalisi dua partai saja yakni PPP dan Demokrat, bisa memenangi pilkada sebelumnya.

“Apalagi ditambah PKB dan PAN, bisa menambah kekuatan, Kami akan berikhtiar sekuat tenaga,” tutur Dony di sela-sela Penandatangan Naskah Koalisi 4 Partai di Aula Hotel Hanjuang Hegar, Jalan Raya Cimalaka, belum lama ini.

Sementara itu, parpol yang belum meminang kandidat untuk maju pada pilkada nanti, yakni Partai Gerindra dan PKS. Meskipun demikian, Eka Setiawan dengan Agung Anugrah kini tampak makin “mesra”.

Dalam beberapa acara, keduanya tampak terlihat berdampingan. Prosesnya tinggal menunggu “restu” dari partai pengusungnya.

Menanggapi pencalonannya, Bupati Eka Setiawan secara bulat siap untuk ikut pilkada. Ia mengklaim telah banyak target yang mesti dicapai untuk membangun daerah  Sumedang yang makmur dan masyarakat yang sejahtera.

Apalagi, potensi SDM dan sumber daya alamnya luar biasa besarnya. Potensi itu mesti terus didorong demi kemajuan Sumedang.

“Sebagai bupati, saya punya pengalaman dan kapasitas untuk mewujudkannya,” tuturnya.
Eka menegaskan sebagai birokrat, dan terjun ke dunia politik merupakan hal yang tidak direncanakan. Eka awalnya menjadi wakil bupati, ditunjuk oleh mantan Bupati Ade Irawan.

“Seiring dengan berjalannya waktu, saya akhirnya menjadi bupati. Nah, setelah menjadi bupati ternyata banyak persoalan di pemerintahan dan pembangunan yang mesti dipecahkan, diperbaiki sehingga jalannya pemerintahan dan pembangunan lebih baik dan terus meningkat,” ucapnya.

Namun untuk melangkah sebagai calon yang diusung koalisi Gerindra dan PKS, Eka harus bersaing dengan tokoh di internal Partai Gerindra, yakni Ade Irawan dan Heri Ukasah.

Sementara itu, pasangan calon perseorangan yang sudah memenuhi syarat dukungan dan hampir dipastikan mendaftar ke KPU, antara lain pasangan Zaenal Alimin-Asep Kurnia (ZA-Akur), Setya Widodo-Sonia Sugian, dan Ecek Karyana-Tatang Sudrajat.

Sebelum semua pasangan calon dari parpol ataupun perse­orangan resmi mendaftar ke KPU, perubahan masih bisa terjadi. Hal itu karena dalam dunia politik  tak ada yang abadi kecuali kepentingan.

Mampu benahi Sumedang

Tahapan Pilkada Sumedang  atau Pemilihan Bupati Sumedang 2018 relatif lancar. Anggaran dan aturan yang ada, sudah memadai sehingga KPU siap menyelenggarakan Pilkada Sumedang dan Pilgub Jabar 2018 Juni mendatang.

“Jadi, kami sudah siap menyelenggarakan pilkada serentak dan Pilgub Jabar dengan dukungan anggaran ataupun berbagai aturan yang ada.  Sampai sekarang, sejumlah tahapan yang sudah dilaksanakan berlangsung lancar,” kata Ketua KPU Sumedang Hersa Santosa di kantornya, Kamis 21 Desember 2017.

KPU Sumedang mengawali proses tahapan pilkada serentak dengan melakukan sosialisasi pilkada kepada masyarakat sejak 14 Juni 2017 lalu. Selain menyosialisasikan waktu pemungutan suara pada 27 Juni 2018 nanti. KPU pun menyampaikan berbagai informasi lainnya terkait pilkada terutama kepada para pemilih pemula.

Selan sosialisasi, tahapan selanjutnya yakni perencanaan program dan anggaran hingga pembentukan PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) dan PPS (Panitia Pemungutan Suara). Untuk pilkada serntak 2018 kali ini, anggota PPS yang diterjunkan sebanyak 831 orang dan sebanyak 130 anggota PPK.

Sementara jumlah TPS masih mengacu pada TPS terakhir dalam Pilpres 2014, sebanyak 2.010 TPS. Khusus untuk  DPT (Daftar Pemilih Tetap) pada Pilkada Sumedang, tak akan berbeda jauh dengan jumlah DPT terakhir pada Pilpres 2014 sebanyak 838.114 pemilih.

Menyinggung tahapan penyerahan berkas dukungan paslon dari perse­orangan, Ketua Divisi Teknis KPU Sumedang Junan Junaidi mengata­kan, setelah tahapan penyerahan berkas dukungan pasangan balonbup-wabup dari calon perseorangan ditu­tup Rabu 29 November 2017 pukul 24.00 lalu, KPU melanjutkan pada tahapan verifikasi administrasi dan faktual 3 pasangan calon yang sudah memenuhi jumlah dan persyaratan berkas du­kungan sesuai ketentuan.

Ketiga pasangan calon tersebut, antara lain Zaenal Alimin-Asep Kurnia dengan syarat sebanyak 71.224 berkas du­kungan. Setya Widodo-Sonia Sugian (63.980 berkas dukungan) dan Ecek Karyana- Tatang Sudrajat (62.953 berkas dukungan).

Visi dan misi

Menurut dia, beberapa kegiatan da­lam verifikasi administrasi, di antara­nya pengecekan kemungkinan terjadi kegandaan KTP internal (1 KTP digandakan untuk satu pasangan calon) dan penggandaan eksternal (1 KTP digandakan untuk beberapa pasangan calon).

Sementara itu, tokoh masyarakat  sekaligus pengamat politik Sumedang, Achmad Wiriatmadja mengatakan, para bakal calon yang akan bertarung pada pilkada nanti, harus membekali diri dengan visi dan misi serta program untuk membangun Sumedang sesuai kehendak masyarakat.

Setiap kontestan, harus mampu membaca kondisi Sumedang sehingga ketika terpilih bisa membangun Sumedang ke arah yang lebih baik lagi sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat.

“Visi dan misinya termasuk programnya, tidak perlu ngawang-ngawang, tapi yang bisa terjangkau. Yang pasti, Sumedang harus dibenahi hingga menjadi daerah termaju di Jawa Barat dan masyarakatnya harus sejahtera,” katanya.

Achmad juga berpesan kepada KPU sebagai penyelenggara pilkada harus netral dengan memegang aturan. Jajaran KPU harus mampu mempertahankan prestasi yang ditoreh KPu sebelumnya.

“Bahkan kalau bisa, ditingkatkan lagi pada pilkada nanti. Prestasi sebelumnya, tingkat partisipasi masyarakatnya untuk mencoblos pada pilkada tertinggi di tingkat kabupaten di Jabar,” kata Achmad

Facebook Comments